Hukum Cambuk Pertama Non-Muslim Di Aceh Diperbincangkan

Hukum-Cambuk-Pertama-Non-Muslim-Di-Aceh-Diperbincangkan.jpg

Aceh kembali memberi sanksi kepada para pelanggar Qanun Jinayat dengan eksekusi hukuman cambuk bagi para pelakunya. Sejak diberlakukan dan ditetapkan hukum cambuk di Aceh, sejumlah organisasi Hak Asasi Manusia menentangnya. kini bentuk sanksi hukum yang baru ada di Serambi Mekkah itu hangat lagi diperbincangkan, setelah Rabu (13/04/2016), seorang Perempuan menjalani hukuman cambuk tersebut. Ramai ranah debat publik adalah karena kejadian itu adalah hukum cambuk pertama non muslim di Aceh.

Perempuan berinisial RS diganjar 30 kali cambukan atas kesalahannya telah menjual minuman keras di Kabupaten Aceh Tengah. RS dicambuk bersama pasangan yang melakukan zina, UMR (42) dan FTM (30) yang mendapat 100 kali cambukan di halaman Gedung Olah Seni Takengon.

Qanun Jinayat mulai diberlakukan di Aceh sejak Oktober lalu dengan pemberlakuan hukuman cambuk tersebut antara lain mencakup khalwat (mesum), khamr (alkohol) dan maisr (perjudian). Sedangkan hukuman cambuk RS ini adalah pelaksanaan hukuman cambuk pertama terhadap warga non-Muslim sejak Aceh memberlakukan syariat Islam secara parsial tahun 2001.

10 algojo dari Wilayatul Hisbah serta Satpol PP disiapkan guna melakukan eksekusi cambuk terhadap pelanggar syariat Islam tersebut. Untuk pelaku zina, algojo bergantian melakukan setiap 10 cambukan dan Setiap 20 kali cambuk tim medis memeriksa kesehatan pelaku zina yang dicambuk secara berturut-turut.

Sharing di...

PinIt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *