Gaya Nakal SPBU Mainin Takaran Bensin Konsumen

Gaya-Nakal-SPBU-Mempermainkan-Takaran-Bensin-Konsumen.jpg

Pernah gak ngerasa ada “sesuatu” yang janggal pas waktu beli bensin di SPBU? yang biasa beli bensin ngider SPBU satu ke SPBU lain mungkin tau bedanya. Tapi kalo cuma beli sekali-sekali mah gak bakal berasa. Sesuatu itu adalah takaran bensin yang kita beli tidak sesuai dengan yang kita terima. Lah koq bisa? Bisa banget bro… Meski tak semua, tapi ada SPBU yang -emang tingkahnya- hobi melakukan kecurangan. Gaya Nakal SPBU Mainin Takaran Bensin Konsumen inilah yang membuat kita kadang jadi phobia beli bensin SPBU.

Admin isisaku dot com termasuk orang merasakan (cukup merasakan) tapi tak bisa memastikan kebenarannya. Karena keseharian kerja selalu harus punya waktu untuk ngerit bensin (sebutan untuk aktivitas orang yang membeli bensin untuk dijual kembali) di Pom bensin. Pom bensin itu adalah sebutan lain SPBU yang artinya POMpa Bensin. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung termasuk yang jamak menggunakan kata Pom Bensin ketimbang SPBU.

Bicara Gaya Nakal SPBU Mainin Takaran Bensin Konsumen di Pulau Bangka, memang belum ada yang menelusuri dan sedikit publikasi. Tukang ngerit bensin cuma bisa merasakan lalu membandingkan hingga akhirnya memutuskan Pom bensin mana yang layak dijadikan langganan ngerit. Berasa banget habis isi saku beli bensin jika untuk dijual lagi.

Nah kalau yang beli bensin itu anak baru gede yang udah mendapat izin dari orang tuanya -atau mencuri pakai- dengan uang saku pas-pasan, apa gak rugi karena gaya Pom bensin nakal itu!

Tulisan ini memang terinspirasi dari berita Direktur Metrologi Kementerian Perdagangan (Kemendag), Hari Prawoko usai penandatanganan Nota Kesepahaman di Kantor BPH Migas, Jakarta, Selasa (16/2/2016). Kemendag memang banyak menerima aduan masyarakat soal gaya nakal SPBU tersebut. Yang jelas nakalnya adalah ketidakcocokan bensin yang harusnya diterima. Tercantum di tera meter SPBU, bensin keluar 8 liter tapi konsumen nerima kurang dari itu. Kemendag Hari Prawoko pun mengakui permainan SPBU yang mengurangi bensin.

Trik Gaya Nakal SPBU Mainin Takaran

SPBU ‘nakal’ punya banyak cara mengangkangi konsumen. Beberapa diantara yang biasa dilakukan Pom bensin nakal memberi sedikit lubang pada pipa dari tangki BBM yang membuat nozzle jadi menghisap udara dan bukan bensin, jadi BBM yang keluar dari nozzle berkurang, tapi yang terpampang di tera meter sesuai dengan tekanan dari tangan petugas Pom. Gaya miring SPBU yang lain adalah memodifikasi tera meter hingga mampu kecepatan geraknya bertambah dari standarnya yang membuat ukuran jadi tidak pas lagi.

Bayangkan, ternyata sejak 2015 lalu sudah ada 100 pengaduan yang diterima Kemendag terkait permainan tera meter BBM. Dan paling banyak pengaduan SPBU nakal itu berasal dari wilayah Sumatera, Medan serta Riau.

Nah, ini. Kalau udah ngomongin Sumatera, pom bensin wilayah Pangkalpinang sudah kena imbasnya belum ya. Atau malah gaya nakal SPBU Pangkalpinang lebih canggih lagi?

Namun dari informasi nampaknya Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) akan mengajak Kemendag untuk mengawasi tera meter BBM di SPBU. Gandengan tangan BPH Migas dan Kemendag dituang dalam Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani oleh Kepala BPH Migas, Andy Noorsaman Sommeng, dan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kemendag, Widodo.

“Semoga setelah penandatanganan MoU, ini jadi pedoman teknis pengawasan di lapangan nanti. Saya apresiasi dukungan BPH Migas di bidang pengawasan metrologi di bidang migas. Ini untuk melindungi kepentingan umum,” kata Widodo.

Pihak Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kemendag berharap pengawasan bisa berjalan efektif setelah MoU ini, agar bisa melindungi masyarakat sebagai konsumen dari Gaya Nakal SPBU, termasuk tukang ngerit bensin Pangkalpinang.

Sharing di...

PinIt

3 thoughts on “Gaya Nakal SPBU Mainin Takaran Bensin Konsumen”

  1. Saya pernah merasakan hal seperti itu Mas waktu beli bensin di SPBU. Terasa ketika pindah beli bensin di SPBU lain. Biasanya dengan jarak yang sama, 15000 rupiah bisa sampai 4 hari, tapi ketika beli di SPBU yang lain kok berasa 3 hari sudah habis juga. Entah hanya sugesti atau bagaimana. Tapi itulah yang saya rasakan.

    1. sisaku says:

      He..he.. kirain cuma ngerasa sendirian, ternyata ada teman juga yang senasib. yah nasib kita, gan. Cuma bisa ngerasa tapi susah buat mbuktiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *